Kisah untukmu, Nduk
Alhamdulillah,akhirnya menemukan bangku kereta dengan nomer sesuai karcis yg ku pegang. Hari ini kereta sawunggalih penuh mungkin karena liburan sekolah sebentar lagi usai.
Setelah beberapa saat mengamati orang yang lalu lalang,akhirnya aku merasakan roda kereta mulai berputar,mengantarku melamun,mengingat percakapan dengan anakku dua malam lalu.
Senin malam si “nduk”,begitulah aku memanggil anak perempuanku yg paling kecil, pulang kerja larut malam. Setelah membiarkannya istirahat beberapa saat,aku mengajaknya ngobrol,aku sangat kangen dengan bicaranya yang ceplas ceplos,semaunya sendiri,meskipun kadang ada yang tak berkenan di hatiku,seperti malam itu,aku lebih suka curhat tentang apapun pada anak perempuanku yg paling kecil ini.
“Nduk, bapakmu mulai bicara kasar lagi sama Ibu, membentak-bentak Ibu dengan kata-kata “goblok”, ibu ga terima digituin nduk. Biasanya bapak berbicara kasar seperti itu setelah ketemu perempuan yg bernama Paijem,yg payudaranya besar, dan genit itu. Bapakmu suka sama payudaranya yg besar”,aku memulai obrolan malam itu.
“Ibu jangan negative thinking,mungkin waktu itu bapak capek,atau pengin diperhatikan,diladenin,tapi Ibu ndak tanggap, nyuwun ngapunten buk, ibu jangan melihat sesuatu dari satu sisi saja, dari sudut pandang ibu saja, dan yg sekiranya bikin hati ndak enak mbok ya jangan diingat-ingat”, kata si Nduk.
“Bagaimana ibu ndak ingat nduk,kalau sikap bapakmu,cara bicara bapakmu ndak pernah berubah dari dulu, ibumu ndak bisa diam kalau bapakmu bicara kasar, apalagi kalau disuruh ke rumah simbahmu,bapak sering marah2,bilang ndak sempat,kalau bicara sama simbahmu juga dengan nada tinggi. Tapi klau simbahmu ndak ada dirumah,bapakmu rajin ke sana,biar bisa ketemuan sama si paijem itu”,aku menjawab kata-kata si Nduk sambil berkata dalam hatiku “nduk,kamu kok ndak bisa merasakan seberapa jengkelnya Ibu”.
Lalu si nduk menjawab,”ibu cemburu yaa,hehehe, sudahlah bu,sudah sama-sama tua,ndak usah cemburu-cemburuan laagi, nikmati kebersamaan berdua,tinggal nyawang* anak cucu”.
“Dari dulu bapakmu ndak berubah nduk, bapak sering menyakiti Ibu, ndak membela ibu saat simboknya tidak menyukai dan menyudutkan ibu,saat saudara2 nya dulu memusuhi ibu gara2 permintaan mereka ndak Ibu turutin. Kenapa kamu kemarin ngasih bantuan lumayan banyak waktu budemu sakit nduk? Kamu tidak tahu bagaimana sikap budemu dulu pada Ibu”, lanjutku.
” Bu, yang sudah2 biar berlalu,ndak usah diingat2, bukankah ibu mengajariku beramal itu perbuatan mulia, apalagi kalau dilakukan untuk saudara sendiri, ndak ada ruginya kok bu, Alhamdulillah saya masih sehat, uang bisa dicari lagi”, benar juga kata si nduk,batinku.
“Nduk, ibu ingat dulu,waktu kalian masih kecil-kecil,bapakmu selingkuh,sampai suatu saat ….. Ibu menemukan bukti-bukti. Dulu ada kegiatan latihan gerak jalan dharmawanita di kantor bapak, ibu ndak sengaja menemukan surat dimeja bapak, disana tercantum nama pengirimnya,seorang perempuan, Hartati. Alamatnya di Pathuk,wonosari. Surat itu berisi kabar dari Hartati tentang keadaannya dan anak lelakinya,yang dia bilang sebagai anak bapakmu,namanya Tri Wahyu. Hartati juga menuntut untuk minta dinikahi secara resmi,karena mereka telah menikah siri, menuntut untuk dinafkahi setiap bulan,utk keperluan hidup dan sekolah anaknya. Sebelum menemukan surat itu, bapakmu pernah bilang sama Ibu, ada saudaranya janda punya anak kecil,tidak punya kerjaan,mau dijadikan pembantu dirumah,kasihan. Saat bapakmu berkata begitu,ibu sudah merasa ada sesuatu yang salah dan ibu menolak usulan bapakmu itu. Ibu ingat sekali,dulu bapakmu pernah tidak pulang ke rumah sekitar semingguan, sebelum berangkat bajunya rapi sekali,pakai kemeja paling baru,rambut sisir rapi,pakai minyak,seperti mau menghadiri acara yg sangat penting. Mungkin waktu itu bapakmu mau menikah siri dengan si hartati itu. Dulu ibu kehabisan akal,sampai mencari paranormal untuk menyembuhkan bapakmu,berharap bahwa cintanya ke hartati itu karena magic,bukan cinta yg sebenarnya. Ibu sampai pergi ke tempat2 terpencil, membawa adikmu yg sempat masuk angin dan mencret-mencret dijalan karena kedinginan. Bapakmu ndak sembuh-sembuh juga. Sering pergi ndak pulang, alasannya nungguin proyek,karena memang waktu itu bapakmu lagi banyak proyek dan penghasilannya lumayan,lebih dari cukup untuk menghidupi 2 istri”, entah kenapa aku menumpahkan semua yg terpendam kepada si Nduk malam ini.
Nduk tak berkata apa-apa,matanya berkaca-kaca sambil sesekali melihat dan memencet blackberynya,mungkin dia sambil bekerja atau dia berusaha mengalihkan kesedihannya.
“Dulu bapakmu pernah bilang, mau menduakan ibu, tentu saja ibu menolaknya mentah-mentah, mendingan ibu minta cerai tetapi kemudian ibu membatalkan niat itu dan berusaha bertahan karena bapakamu bilang “klau bercerai anak dibagi dua, kamu dua,aku dua”,…. Nduk, ibu ndak mau terpisah dari kalian semua, bagaimanapun ibu ndak mau kehilangan dua anak ibu dan ibu ndak percaya bapak bisa mendidik dua anak yg mau dia ambil dengan baik. Ibu tetep mau bersama kalian semua, ibu bertahan meskipun sangat sakit. Nduk, dulu mbah akungmu juga jadi sakit dan stroke karena kelakuan bapakmu itu,sebelumnya mbah akungmu sangat sehat dan kuat”, aku meneruskan kisahku kepada si Nduk,aku ingin si Nduk mengerti perasaanku dan tidak menyalahkan aku kalau aku bersikap kurang baik pada suamiku.
Ku lihat air mata Nduk sudah berlinang-linang, dia tak sanggup berkata apa-apa,hanya menangis sesenggukan sambil memelukku.
Maafkan ibumu Nduk, telah menceritakan kisah ini kepadamu.
